Di Pojok Warung Kopi Belakang Kampus

Mang Godel: (Menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, matanya menatap tajam ke arah Giri yang tampak kusut) “Giri… tarik napas dulu, Ri. Itu dahi jangan dilipat begitu, sudah mirip kertas ujian yang nggak lulus verifikasi. Kamu ini memimpin BEM atau sedang memikul dosa seluruh fakultas?”

Giri: (Menyandarkan punggung ke kursi kayu yang berderit) “Berat, Mang. Anak-anak sekarang… aduh. Disuruh kumpul diskusi, alasannya tugas numpuk. Diminta peduli isu publik, jawabannya ‘memangnya itu nambah IPK?’. Mereka individualis banget, Mang. Saya merasa jalan sendirian di BEM ini. Belum lagi urusan alumni LSD, saya benar-benar lost contact. Merasa nggak punya ‘akar’.”

Mang Godel: (Terkekeh kecil, gaya khasnya yang sedikit sinis tapi kebapakan muncul) “Ri, kamu jangan terjebak dalam ‘ketidaklengkapan’ sistem yang kamu buat sendiri. Kamu mengeluh mahasiswa sekarang cuek, tapi mungkin kamu lupa: mereka itu bukan kurang peduli, mereka cuma nggak ketemu romantisme-nya. Manusia itu makhluk yang bergerak karena rasa, bukan cuma karena instruksi struktural BEM.”

Giri: “Maksud Mamang?”

Mang Godel: “Begini, di Lingkar Studi Dialektika dulu, kita nggak cuma bicara soal menjatuhkan rezim atau kritik kebijakan ekonomi. Kita punya ‘Ukhuwah’ yang basisnya adalah penderitaan bersama. Kita lapar bareng, patungan beli buku bareng, sampai dikejar satpam bareng. Itu yang bikin alumni kami—senior-seniormu—masih punya ikatan batin meski sekarang mereka sudah jadi pejabat atau pengusaha.”

Giri: “Tapi sekarang komunikasinya putus, Mang. Saya sungkan mau menghubungi. Takut dibilang cuma datang kalau ada butuhnya.”

Mang Godel: (Menaruh gelas kopinya dengan bunyi klak yang mantap) “Itu penyakitmu! Kamu memandang alumni sebagai ‘ATM’ atau ‘pintu proyek’. Jelas saja kamu takut. Coba framing-nya diubah. Ukhuwah alumni itu bukan soal struktural, tapi soal Rupture—patahan kenangan yang harus disambung lagi.”

“Jangan panggil mereka untuk jadi sponsor acara BEM dulu. Panggil mereka untuk ‘pulang’ bercerita. Orang sukses itu paling suka bernostalgia tentang masa-masa mereka masih ‘goblok’ di kampus. Ajak mereka ngopi di sekretariat LSD yang kumuh itu. Biar mereka lihat kalau idealisme yang mereka tanam dulu masih ada yang jaga, meskipun yang jaganya cuma kamu sendirian sambil merana begini.”

Giri: (Mulai sedikit tercerahkan) “Jadi, saya harus jemput bola ya, Mang? Bukan menunggu mereka turun gunung?”

Mang Godel: “Ya iyalah! Logikanya begini: alumni itu ibarat perpustakaan hidup. Kalau kamu nggak pernah buka bukunya, ya dia cuma jadi pajangan berdebu. Dan soal mahasiswa yang individualis itu? Jangan dilawan dengan khotbah moral. Lawan dengan Uswah—contoh. Tunjukkan kalau lewat organisasi dan ukhuwah alumni ini, kamu punya ‘akses’ dan ‘kematangan’ yang nggak didapat mahasiswa yang cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang.”

“Buat ukhuwah ini jadi sesuatu yang ‘seksi’ lagi di mata mereka. Bikin mereka iri karena kamu punya ‘keluarga’ di luar kartu keluarga mereka sendiri. Mengerti, Ri?”

Giri: (Tersenyum tipis, mulai mencatat di ponselnya) “Siap, Mang Godel. Saya coba kontak senior LSD yang di Jakarta dulu kalau begitu.”

Mang Godel: “Nah, begitu! Dan satu lagi… kopi saya kamu yang bayar ya. Itu bagian dari ukhuwah junior ke senior. Jangan individualis kamu!”

Manifesto di Selasar yang Sepi

Giri berdiri di depan selasar Fakultas yang biasanya hanya diisi mahasiswa yang sibuk dengan laptop dan earbuds-nya. Di tangannya bukan toa besar yang berisik, melainkan sebuah poster usang berlogo Lingkar Studi Dialektika (LSD) dan sebuah gitar tua.

Giri: (Berteriak tanpa toa, suaranya parau tapi tegas) “Teman-teman! Saya tidak akan mengajak kalian demo hari ini. Saya juga tidak akan meminta sumbangan. Saya hanya ingin bertanya: Siapa yang akan datang ke pemakaman kalian nanti kalau kalian mati sebagai orang asing di kampus sendiri?

Beberapa mahasiswa mulai melepas earbuds. Ada yang menoleh dengan wajah terganggu, tapi penasaran.

Giri: “Kalian bangga dengan IPK 4.0, tapi kalian sendirian. Kalian bangga dengan internship di perusahaan besar, tapi kalian tidak punya saudara. Di LSD dulu, senior kami diajarkan bahwa ekonomi bukan soal angka di atas kertas, tapi soal bagaimana piring tetangga kita tidak kosong. Ukhuwah itu bukan beban, itu asuransi jiwa paling murni yang pernah ada!”

Dari kejauhan, Mang Godel bersandar di tiang beton, tersenyum tipis sambil mengisap kreteknya. Dia bergumam sendiri, seolah bicara pada hantu masa lalu.

Mang Godel: “Bagus, Ri. Hantam ‘ketunggalan’ mereka dengan realitas. Manusia itu takut dilupakan, dan kamu sedang menjual ‘keabadian’ dalam bentuk persaudaraan.”


Di Ruang BEM (Setelah Aksi Selasar)

Giri sedang duduk sendirian, kelelahan. Pintu diketuk. Seorang mahasiswa yang tadi terlihat paling cuek masuk dengan ragu.

Mahasiswa: “Kang Giri… tadi itu maksudnya apa? Soal ‘asuransi jiwa murni’?”

Giri: (Teringat pesan Mang Godel) “Maksudnya, di sini, di organisasi ini, kita sedang membangun romantisme yang masif. Kamu lihat alumni kita di dinding itu? Mereka bukan sekadar foto. Mereka adalah jaringan saraf yang saling terhubung. Saat satu sakit, yang di Jakarta, yang di luar negeri, semua merasa getarannya. Kamu mau jadi sekrup mesin yang bisa diganti kapan saja, atau mau jadi bagian dari organisme hidup ini?”

Tiba-tiba ponsel Giri bergetar. Pesan dari Mang Godel masuk:

“Jangan kasih mereka teori dulu. Ajak mereka makan nasi bungkus bareng di pinggir jalan. Romantisme itu mulainya dari perut dan tawa, baru naik ke kepala. Ingat, Ri: Ukhuwah adalah teknologi sosial paling canggih untuk melawan alienasi zaman.”

Di Bawah Pohon Rindang (Mang Godel Bernostalgia)

Mang Godel: (Sambil menunjuk ke arah gedung rektorat) “Ri, kamu tahu nggak? Tahun ’95 dulu, kampus ini lebih ‘dingin’ dari sekarang. Mahasiswanya jalan sendiri-sendiri, sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi ada sekelompok orang—cuma enam orang, Ri—yang nggak betah dengan kesunyian itu. Mereka sengaja bikin riuh, bikin dinamika yang memaksa orang untuk keluar dari cangkangnya.”

Giri: “Enam orang saja, Mang? Memangnya cukup buat menggerakkan ribuan mahasiswa?”

Mang Godel: “Cukup! Karena mereka nggak jualan teori muluk-muluk. Mereka jualan nasib. Awalnya memang ada konflik internal, sikut-sikutan dikit, perdebatan tajam soal strategi. Tapi justru di situ ‘lem’-nya. Konflik itu memaksa kita untuk saling bicara, saling kenal karakter, sampai akhirnya sadar kalau musuh kita bukan teman di sebelah kita, tapi ketidakpedulian.”

Giri: “Terus hubungannya dengan ukhuwah alumni yang Mamang bilang sakti itu apa?”

Mang Godel: (Matanya berbinar) “Ri, dengar ya. Romantisme itu lahir dari darah dan keringat yang keluar bareng-bareng. Karena kita dulu pernah ‘berdarah-darah’ bareng mengurus dinamika kampus, sekarang saat kami sudah jadi ‘orang’, rasanya berdosa kalau melihat kampus kita kering. Itulah kenapa alumni angkatan itu gampang banget kalau disuruh patungan beasiswa atau bangun fasilitas.”

“Kami nggak bantu kampus karena loyal pada tembok gedungnya, tapi kami loyal pada memori kolektif persaudaraan yang lahir dari dinamika tahun ’95 itu. Kami ingin adik-adik seperti kamu merasakan ‘hangat’ yang sama.”

Mang Godel ke Giri: “Jadi, Ri… tugasmu sekarang bukan cuma bikin acara sukses. Tugasmu adalah bikin kenangan yang nggak bisa dilupakan. Bikin mereka punya ‘hutang rasa’ pada organisasi. Nanti kalau kamu sudah kumisan dan perutmu sudah buncit seperti saya, kamu tinggal telepon mereka, dan beasiswa untuk kampus ini akan mengalir tanpa perlu banyak tanya.”


Di Bawah Pohon Rindang (Mang Godel Angkat Bicara Soal Politik Kampus)

Giri datang ke Mang Godel dengan wajah pucat. Dia baru saja dituduh curang dalam pemilihan ketua BEM, dan kandidat yang kalah sedang mengerahkan masa untuk menuntut pemilihan ulang.

Giri: “Mang… kacau. Si Fikri nggak terima kalah. Dia bilang saya manipulasi suara. Dia bawa ‘geng’-nya, suasana tegang banget di depan sekretariat. Saya bingung, Mang.”

Mang Godel: (Tidak bergeming, malah asyik mengaduk kopinya yang panas) “Santai, Ri. Tarik napas. Kamu tahu? Tahun ’95 dulu, saya juga pernah ada di posisi kamu. Jadi Panitia Pemilihan Ketua BEM dan Himpunan.”

Giri menoleh, kaget. “Hah? Mamang pernah juga?”

Mang Godel: (Tersenyum sinis, tapi matanya menerawang) “Iya. Dan situasinya sama persis. Ada kandidat yang kalah, namanya Bayu—sekarang dia jadi CEO di Jakarta. Bayu dulu juga teriak pemilihan ulang, ‘geng’-nya bikin onar di kampus. Kita hampir jotos-jotosan, Ri.”

Giri: “Terus, gimana caranya Mamang hadapi itu? Apa Mamang turuti kemauan mereka?”

Mang Godel: “Tidak. Saya tidak turuti kemauan mereka, karena saya tahu pemilihan itu sah. Tapi, saya juga tidak pakai kekerasan. Yang saya lakukan adalah Social Engineering tingkat tinggi.”

“Sore harinya, saat suasana masih panas, saya panggil Bayu sendirian ke tempat netral. Bukan di sekretariat, tapi di angkringan belakang kampus. Saya cuma bawa satu gelas kopi dan satu piring gorengan. Saya tidak bicara soal politik. Saya bicara soal rasa.”

Giri: “Rasa?”

Mang Godel: “Iya. Saya bilang ke Bayu: ‘Bay, kita ini beda strategi, tapi satu mimpi: bikin kampus ini keren. Kalau kamu menang, aku siap bantu. Kalau aku menang, kamu juga harus bantu. Tapi kalau kita berantem terus begini, yang menang cuma birokrasi kampus yang senang lihat kita pecah.’ Saya peluk dia, Ri.”

“Kawan sejati bukanlah dia yang selalu setuju denganmu, tapi dia yang berani bertarung ide dengamu, lalu memelukmu saat pertandingan usai. Karena romansa politik kampus adalah pupuk yang paling subur untuk ukhuwah alumni yang abadi.”

2 komentar untuk “Di Pojok Warung Kopi Belakang Kampus”

  1. Pingback: Ziarah ke Gang yang Hilang – Yuhka Sundaya

  2. Pingback: Tekanan Malaka dan Ujian Mental – Yuhka Sundaya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top