Volume 1: https://yuhkasun.com/di-pojok-warung-kopi-belakang-kampus/
Giroh & Ukhuwah: Ujian Malaka merajut ketegangan geopolitik saat militer AS menyita tanker minyak Iran di Selat Malaka dengan kemelut internal di sekretariat LSD, di mana para kader dan Shofiawan harus berjibaku antara idealisme gerakan dan tekanan Ujian Tengah Semester (UTS). Di tengah ancaman krisis energi global, “Saham Ideologi” diuji efektivitasnya melalui perdebatan sengit antara Jaya yang menuntut struktur kelembagaan taktis melawan Arya yang terjebak dalam konsep filosofis, sementara Giri, sang pemimpin yang merasa terasing di balik meja kerjanya, mencoba menyambung kembali patahan emosional organisasi melalui gubahan lagu di sela distraksi digital. Babak ini menjadi medan pembuktian bagi ukhuwah alumni dan mahasiswa, di mana suara harmonika kader perempuan menjadi penyeimbang di tengah kerasnya benturan sistem, membuktikan bahwa marwah intelektual harus tetap berdiri tegak meski dunia sedang di ambang kehancuran dan buku ujian sedang menanti jawaban.

Di luar sana, Selat Malaka memanas. Berita penyitaan kapal tanker Iran oleh militer AS meledak di televisi dan media sosial. Dunia sedang menahan napas menghadapi potensi krisis energi. Namun, di dalam pagar kampus, suasana justru hening yang mencekam—mahasiswa sedang berjibaku dengan kertas ujian tengah semester (UTS).
1. Telepon Darurat: Jaya ke Arya Jaya sedang berada di kantornya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik harga minyak yang melonjak. Tangannya langsung menyambar ponsel, menelepon Arya.
Jaya: “Ya, kamu sudah lihat berita Malaka? Ini momennya! Kita nggak bisa nunggu UTS selesai. Kita butuh konsep Saham Ideologi ini segera diterjemahkan ke dalam narasi publik. Kalau mahasiswa cuma sibuk jawab soal ujian sementara kedaulatan energi di depan mata kita diganggu, artinya investasi kita gagal. Tulis sesuatu! Hubungkan krisis Malaka dengan pentingnya kemandirian intelektual kita!”
Arya: (Di sela-sela tumpukan bukunya) “Tenang, Jay. Saya sudah mulai. Saya beri judul: ‘Minyak Malaka dan Darah Intelektual’. Saya akan ingatkan mereka bahwa ujian yang sebenarnya bukan di atas kertas LJK, tapi di bagaimana mereka merespons ketidakadilan global.”
2. Dilema Shofiawan dan Kader LSD
Shofiawan duduk di bangku ujian, memegang pulpen dengan tangan gemetar. Di saku celananya, ponselnya terus bergetar—notifikasi grup koordinasi LSD masuk bertubi-tubi soal aksi solidaritas dan analisis krisis.
Shofiawan (dalam hati): “Soal ekonomi makro ini bicara soal keseimbangan pasar, tapi di luar sana pasar sedang dihancurkan oleh militerisme. Mana yang lebih penting untuk saya selesaikan sekarang?”
Ia melirik kader LSD lainnya di barisan depan. Mereka tampak mengalami dilema yang sama. Inilah ujian Saham Ideologi yang sesungguhnya: Mampu tidaknya mereka tetap berprestasi secara akademik tanpa kehilangan kepekaan sosial.
3. Gerakan Harmonika: Suara Perempuan LSD
Di sudut kantin yang sepi, kader-kader perempuan LSD tidak tinggal diam. Mereka tidak turun ke jalan dengan poster, tapi mereka bergerak dengan Gerakan Harmonika.
Suara harmonika yang meliuk-liuk sendu namun kuat mengiringi kreasi lagu baru mereka. Liriknya tajam, menyindir tentang bagaimana dunia sibuk berebut minyak sementara kemanusiaan sedang ujian di bawah tekanan.
- “Kita menulis angka di kertas ujian, sementara di Malaka mereka menulis sejarah dengan ancaman…” Lagu ini direkam secara kilat dan diunggah oleh Shofiawan sebagai latar suara infografis Dentum Digital.
Intervensi Mang Godel via Pesan Singkat:
Mang Godel mengirimkan satu pesan ke grup besar Yayasan Beasiswa Alumni:
“Anak-anakku, selesaikan UTS kalian dengan nilai terbaik. Buktikan bahwa pemegang Saham Ideologi adalah orang-orang cerdas. Tapi begitu pulpen diletakkan, pastikan otak kalian sudah siap menghantam narasi penindasan di Malaka. Jangan jadi aktivis yang bodoh di kelas, dan jangan jadi mahasiswa pinter yang budek di masyarakat. Harmonika sudah berbunyi, lirik sudah tercipta. Selamat ujian, selamat berjuang!”
Debat di Ambang Krisis
Telepon kembali berdering. Jaya tidak lagi bicara pelan. Di mejanya, laporan harga minyak dunia berserakan, dan notifikasi pergerakan militer di Malaka terus berdenting.
Jaya: “Ya! Stop dulu kutipan Gibran atau metafora ‘sayap-sayap peradaban’-mu itu. Kita lagi butuh Struktur Organisasi dan Mekanisme Distribusi Saham Ideologi yang konkret. Malaka sudah memanas, mahasiswa lagi UTS, dan pimpinan kampus nanya mana bukti fisik yayasan kita. Jangan bertele-tele!”
Arya: (Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas panjang) “Jay, kelembagaan tanpa ruh itu cuma bakal jadi birokrasi baru. Aku lagi nyari ‘kata’ yang pas supaya Shofiawan dan anak-anak LSD nggak merasa yayasan ini cuma ‘donatur’ yang beli suara mereka…”
Jaya: (Memotong cepat) “Ruh itu urusan nanti pas orasi! Sekarang saya butuh: Siapa direkturnya? Gimana alur dana dari alumni masuk ke proyek riset Shofiawan? Dan gimana cara kita ‘nyekat’ intervensi birokrasi kampus lewat perjanjian legal? Bikin poin-poinnya, Ya! 1, 2, 3… beres. Jangan bikin narasi 10 halaman yang isinya cuma kegelisahan batin!”
Arya: “Kamu terlalu teknis, Jay. Kamu mau jadiin yayasan ini kayak korporasi?”
Jaya: “Bukan korporasi, tapi Institusi yang Berfungsi. Saham Ideologi itu bukan puisi, itu ‘power’. Dan power butuh kanal yang jelas. Kalau kamu kelamaan ngonsep yang ‘indah-indah’, keburu Malaka meledak dan Shofiawan selesai UTS tanpa pegangan apa-apa. Saya kasih waktu satu jam, kirim draf kelembagaannya dalam bentuk poin-poin taktis. Paham?”
Dinamika Shofiawan & Kader Perempuan
Sementara itu, di sela-sela UTS, Shofiawan menerima pesan singkat dari Arya yang tampak panik karena ditekan Jaya.
Arya (SMS ke Shofiawan): “Wan, Jaya ngamuk. Dia minta struktur taktis. Tolong bantuin kasih poin-poin kebutuhan LSD di lapangan sekarang. Jangan puitis, Jaya lagi mode ‘Auditor Galak’.”
Di pojok lain, kader perempuan LSD yang sedang memegang harmonika, tersenyum melihat pesan itu. Mereka menyadari bahwa gerakan ini memang butuh dua sisi: Ketegasan Jaya untuk melindungi mereka secara sistem, dan Kelembutan Arya untuk menjaga nurani mereka tetap hidup.
Sambil memetik gitar kecil dan meniup harmonika, salah satu kader berbisik: “Biarkan Bang Jaya bangun bentengnya, biar Bang Arya yang lukis dindingnya. Kita? Kita yang nyanyiin lagu kemenangannya.”
Melodi yang Terputus di Ruang Kerja
Giri duduk di balik meja kerja kantornya yang rapi. Di layar komputernya terbuka lembar kerja berisi grafik performa perusahaan, namun di bawah tumpukan dokumen resmi itu, ia menyembunyikan sebuah kertas coretan lirik lagu.
Ia sedang mencoba menggubah nada untuk menyuarakan apa yang ia rasakan: Kesunyian sang pemimpin yang mulai merasa menjadi orang asing di rumah yang ia bangun sendiri.
Giri: (Bergumam pelan sambil mencoba nada) “Di balik meja ini, suaraku jadi angka… di sela dasi ini, napasku jadi hampa…”
Ting! Ting! Ting!
Ponselnya di atas meja terus bergetar. Grup WhatsApp LSD sedang meledak.
- Jaya: “Ya, mana draf taktisnya? Malaka nggak nunggu puisi kamu!”
- Arya: “Sabar, Jay. Esensi nggak bisa diburu-buru seperti audit pajak.”
- Shofiawan: “Bang, mohon arahan, kami baru beres UTS sesi pertama. Info Malaka bikin anak-anak makin panas. Aksi atau narasi?”
Giri meraih ponselnya. Ia membaca satu per satu pesan itu. Ada rasa sesak yang muncul. Ia merasa hanya menjadi “saksi bisu” dalam grup itu. Jaya dan Arya seolah punya dunianya sendiri, sementara Shofiawan lebih sering melempar tanya ke grup besar daripada berkonsultasi langsung padanya.
Giri: (Mengetik, lalu menghapusnya lagi) “Apa kalian lupa, aku masih di sini?”
Distraksi dan Disorientasi
Ia kembali menatap lirik lagunya. Tapi bayangan Kader Perempuan dengan harmonikanya di kampus, dan ketegangan Tanker Iran di Malaka, terus menari-nari di kepalanya. Giri merasa terbelah. Secara fisik ia adalah eksekutif muda yang sukses, tapi jiwanya masih tertinggal di gang sempit.
Giri: (Bicara pada diri sendiri) “Dulu, satu kata dariku bisa membuat satu fakultas bergerak. Sekarang, satu chat-ku di grup ini mungkin cuma dianggap sebagai ‘notifikasi dari alumni senior’ yang lewat begitu saja.”
Ia mencoba kembali ke nadanya, tapi jari-jarinya kaku. Ia merasa Saham Ideologi ini mulai berjalan secara mekanis, sementara ia merindukan Sentuhan Emosional yang dulu mereka miliki.
Momen Puncak: Pesan Terakhir Giri
Akhirnya, Giri memutuskan untuk tidak membalas perdebatan Jaya dan Arya. Ia justru memotret potongan lirik lagu yang ia tulis, lalu mengirimnya ke grup tanpa kata-kata tambahan.
Lirik di foto itu berbunyi:
“Ukhuwah bukan tentang siapa yang paling cepat menyusun aturan, tapi tentang siapa yang masih peduli saat kawan mulai merasa sendirian di tengah keramaian.”
Seketika grup yang tadinya bising dengan perdebatan teknis Jaya dan filosofis Arya mendadak hening.
Mang Godel: (Muncul di grup setelah 10 menit keheningan) “Nah, itu dia ‘Saham Rasa’ dari Giri. Kalian sibuk bangun benteng, tapi lupa nanya apakah penghuninya masih punya hati. Ri, selesaikan lagumu. Biar Shofiawan dan kader perempuan yang menyanyikannya sebagai penyeimbang panasnya Malaka.”